Suharto adalah manusia paling kontroversial di Indonesia. Nilai kontroversinya jauh melebihi Sukarno. Bila Bung Karno dikenal dunia karena ulahnya yang begitu mencengangkan dan sering bikin kejutan, maka Suharto lebih pada nilai misteriusnya. Misteri Suharto adalah kekuasaan yang begitu besar, dan itu dibangun dengan cara yang mungkin orang akan juga tercengang yaitu sikap : Diam. Pendiam bagi Suharto bukan hanya watak tapi merupakan latihan menahan diri yang ekstrem. Bahkan Rosihan Anwar yang pernah bersama Suharto di tahun 1949 sebagai wartawan Republikein mengunjungi Panglima Sudirman di persembunyiannya menghadapi sikap aneh dari seorang Overste (letnan kolonel) muda ini dengan sikap diamnya.
“Saya bersama Overste Suharto dan seorang juru potret Frans Mendur menemui Jenderal Sudirman di persembunyiannya sekitar pedalaman hutan Wonosobo, saya diantar oleh Overste Suharto namun sepanjang perjalanan satu hari penuh tidak pernah Suharto bicara sedikitpun, baru ketika ia mempersilahkan kami meminum degan (air kelapa muda) baru ia berkata singkat “Silahkan” setelah itu tidak ada kata-kata lagi. Demikian kira-kira kesan Rosihan Anwar yang ia sering ungkap ke publik jauh-jauh hari ketika Orde Baru sudah berkuasa. Diam itu modal, dan itu adalah prinsip Suharto. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.
Suharto lahir juga dari sebuah sikap aneh seorang ibu. Sukirah, adalah nama Ibu Suharto. Dalam otobiografinya ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ yang disusun G Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Suharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun banyak catatan di buku-buku sejarah Suharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami problem mental yang sangat sulit. Apa problem mental itu tidak pernah ada penjelasan yang gamblang sampai saat ini. Hanya saja proses kelahiran Suharto merupakan yang berat bagi Sukirah, sebelum Suharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak cerai suaminya Kertosudiro. Seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Suharto tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Suharto bahkan banyak pengamat Suharto seperti RE Elson. Suharto tidak pernah menunjukkan rasa hormat yang layak kepada Kertosudiro sebagai ayah kandung. Lalu apakah Kertosudiro itu ayah kandung Suharto? Inilah misteri terbesar dari Suharto yang kerap banyak disebut sebagai anak lembu petheng (anak hasil dari hubungan gelap) dan meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Suharto. Banyak catatan beredar mengenai hal ini, bahkan pelontarnya tidak tanggung-tanggung seperti : Mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Suharto, Mashuri. Mashuri sendiri pernah membuat pernyataan yang menghebohkan bahwa Suharto adalah anak seorang pedagang keliling Cina yang cukup kaya raya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ayah kandung Suharto adalah kerabat Keraton Yogyakarta. Pada tahun 1974 pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gossip bernama ‘POP’ sebuah liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Suharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II. Suharto kecil yang umur 6 tahun dibuang ke desa dan disuruh diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Suharto. Dengan separuh murka Suharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usulnya dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Suharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa. Mitos Suharto sebagai anak desa ini digunakan untuk mengaitkan dirinya dengan mayoritas bangsa Indonesia yang di tahun 70-an adalah petani dan menghindarkan kesan bahwa Junta Militer yang dipimpinnya adalah gerakan elite.
Konsep anak haram banyak disebut oleh para biografer Suharto untuk menjelaskan asal-usuk Suharto. Ketidakjelasan asal-usul Suharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan. Namun dari semua itu Bayi Suharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang stress dan senang bertapa serta ayahnya yang datang dan pergi jelas tidak menguntungkan bagi Suharto. Sukirah pernah ditemukan hampir mati disuatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi dan hilangnya Sukirah sempat pernah membuat panik penduduk desa kemusuk, sehingga para penduduk mencarinya. Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Suharto kepada kakak perempuan Kertosudiro, isteri dari Kromodiryo. Putra Kromodiryo Amat Idris sangat menyayangi Suharto kecil tiap sore bayi kecil Suharto dibopong-bopong sambil mengitari persawahan. Setelah Suharto bisa jalan ia kerap diajak oleh Kromodiryo ke sawah. Dalam otobiografinya Suharto masih ingat ketika ia berumur empat tahun melihat kaki Kromodiryo terluka karena sabitnya terlepas dari gagang saat sedang bekerja di sawah. Dalam psikologi anak umur antara tiga tahun sampai lima tahun adalah masa golden time, Alam psikologi Suharto tentunya sangat dipengaruhi masa-masa ini. Ibunya yang berat pikiran namun melakukan tapa berat untuk menjawab kesulitan hidupnya jelas akan menurun pada waktu Suharto yang kelak dikemudian hari sangat senang melakukan puasa dan melatih diri untuk menahan apapun atau berlatih menyembunyikan ekspresi emosi-emosinya. Latihan-latihan ini kelak sangat berguna sebagai senjata paling ampuh dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun. Namun keterpecahan keluarga, rasa terbuang oleh keluarga dan tidak diperhatikan akan membangkitkan sikap ingin melindungi keluarganya secara berlebihan inilah yang ketika dimasa Orde Baru nanti sikap yang paling banyak dibenci oleh setiap orang ketika melihat sosok Suharto.
“Saya bersama Overste Suharto dan seorang juru potret Frans Mendur menemui Jenderal Sudirman di persembunyiannya sekitar pedalaman hutan Wonosobo, saya diantar oleh Overste Suharto namun sepanjang perjalanan satu hari penuh tidak pernah Suharto bicara sedikitpun, baru ketika ia mempersilahkan kami meminum degan (air kelapa muda) baru ia berkata singkat “Silahkan” setelah itu tidak ada kata-kata lagi. Demikian kira-kira kesan Rosihan Anwar yang ia sering ungkap ke publik jauh-jauh hari ketika Orde Baru sudah berkuasa. Diam itu modal, dan itu adalah prinsip Suharto. Dengan filsafat diam ia membangun kekuasaannya dengan begitu perkasa dan tidak pernah terkalahkan oleh kekuatan politik lokal apapun. Namun ironisnya kekuasaan Orde Baru yang begitu besar justru jatuh karena paradoks-paradoks masyarakat yang dibangunnya. Begitu juga dengan kekejamannya, korupsi bahkan lebih jauh lagi merubah secara fundamental haluan bangsa ini yang diarahkan oleh founding fathers sebagai negara kesejahteraan bersama menjadi negara milik kaum kroni, mungkin sampai detik ini.
Suharto lahir juga dari sebuah sikap aneh seorang ibu. Sukirah, adalah nama Ibu Suharto. Dalam otobiografinya ‘Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’ yang disusun G Dwipayana, Sukirah digambarkan oleh Suharto sebagai ibu muda yang sedang sulit memikirkan masalah-masalah rumah tangga. Namun banyak catatan di buku-buku sejarah Suharto lain yang banyak menyebutkan Sukirah sedang mengalami problem mental yang sangat sulit. Apa problem mental itu tidak pernah ada penjelasan yang gamblang sampai saat ini. Hanya saja proses kelahiran Suharto merupakan yang berat bagi Sukirah, sebelum Suharto (yang lahir 8 Juni 1921) berumur 40 hari, Sukirah harus menghadapi talak cerai suaminya Kertosudiro. Seorang mantri ulu-ulu (pengatur irigasi) miskin yang kelak sebagai ayah Suharto tidak memainkan peran banyak dalam kehidupan Suharto bahkan banyak pengamat Suharto seperti RE Elson. Suharto tidak pernah menunjukkan rasa hormat yang layak kepada Kertosudiro sebagai ayah kandung. Lalu apakah Kertosudiro itu ayah kandung Suharto? Inilah misteri terbesar dari Suharto yang kerap banyak disebut sebagai anak lembu petheng (anak hasil dari hubungan gelap) dan meyakini bahwa Kertosudiro bukanlah ayah kandung Suharto. Banyak catatan beredar mengenai hal ini, bahkan pelontarnya tidak tanggung-tanggung seperti : Mantan Menteri Penerangan yang dekat dengan Suharto, Mashuri. Mashuri sendiri pernah membuat pernyataan yang menghebohkan bahwa Suharto adalah anak seorang pedagang keliling Cina yang cukup kaya raya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa ayah kandung Suharto adalah kerabat Keraton Yogyakarta. Pada tahun 1974 pernah muncul pemberitaan yang menghebohkan dari majalah gossip bernama ‘POP’ sebuah liputan yang menurunkan kisah lama yang beredar bahwa Suharto adalah anak dari Padmodipuro, seorang bangsawan dari trah Hamengkubowono II. Suharto kecil yang umur 6 tahun dibuang ke desa dan disuruh diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Suharto. Dengan separuh murka Suharto mengadakan konferensi pers di Bina Graha bahwa liputan mengenai asal-usulnya dirinya yang anak bangsawan bisa saja merupakan tunggangan untuk melakukan subversif. Suharto dengan caranya sendiri ingin mengesankan bahwa dia adalah anak desa. Mitos Suharto sebagai anak desa ini digunakan untuk mengaitkan dirinya dengan mayoritas bangsa Indonesia yang di tahun 70-an adalah petani dan menghindarkan kesan bahwa Junta Militer yang dipimpinnya adalah gerakan elite.
Konsep anak haram banyak disebut oleh para biografer Suharto untuk menjelaskan asal-usuk Suharto. Ketidakjelasan asal-usul Suharto secara genealogi sampai sekarang masih belum terpecahkan. Namun dari semua itu Bayi Suharto berada di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang stress dan senang bertapa serta ayahnya yang datang dan pergi jelas tidak menguntungkan bagi Suharto. Sukirah pernah ditemukan hampir mati disuatu tempat karena memaksa dirinya berpuasa ngebleng (tidak makan dan minum selama 40 hari) di suatu tempat yang tersembunyi dan hilangnya Sukirah sempat pernah membuat panik penduduk desa kemusuk, sehingga para penduduk mencarinya. Sadar dengan kondisi Sukirah yang kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk menyerahkan pengurusan bayi Suharto kepada kakak perempuan Kertosudiro, isteri dari Kromodiryo. Putra Kromodiryo Amat Idris sangat menyayangi Suharto kecil tiap sore bayi kecil Suharto dibopong-bopong sambil mengitari persawahan. Setelah Suharto bisa jalan ia kerap diajak oleh Kromodiryo ke sawah. Dalam otobiografinya Suharto masih ingat ketika ia berumur empat tahun melihat kaki Kromodiryo terluka karena sabitnya terlepas dari gagang saat sedang bekerja di sawah. Dalam psikologi anak umur antara tiga tahun sampai lima tahun adalah masa golden time, Alam psikologi Suharto tentunya sangat dipengaruhi masa-masa ini. Ibunya yang berat pikiran namun melakukan tapa berat untuk menjawab kesulitan hidupnya jelas akan menurun pada waktu Suharto yang kelak dikemudian hari sangat senang melakukan puasa dan melatih diri untuk menahan apapun atau berlatih menyembunyikan ekspresi emosi-emosinya. Latihan-latihan ini kelak sangat berguna sebagai senjata paling ampuh dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun. Namun keterpecahan keluarga, rasa terbuang oleh keluarga dan tidak diperhatikan akan membangkitkan sikap ingin melindungi keluarganya secara berlebihan inilah yang ketika dimasa Orde Baru nanti sikap yang paling banyak dibenci oleh setiap orang ketika melihat sosok Suharto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar